Cari Blog Ini

Memuat...

media inspirasi

Rabu, 22 Desember 2010

MENGENAL WISATA ZIARAH BANTEN

Provinsi Banten memiliki banyak obyek wisata ziarah yang tersebar sampai ke pelosok. Obyek wisata ziarah ini umumnya berupa makam/pekuburan yang dikeramatkan oleh penduduk setempat. Biasanya yang dimakamkan merupakan seorang tokoh yang memiliki kharisma di masa lalu dan memiliki kemampuan lebih dari manusia pada umumnya, seperti Ulama/Syeh/Wali, Raja/Sultan, Panglima Perang, dan lain sebagainya.

Peziarah yang datang berassal dari berbagai daerah di Pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan. Beberapa pengunjung bahkan ada yang berasal dari luar negeri seperti Malaysia, Singapura, Australia dan sebagainya.


1. Masjid Agung Banten

Masjid Agung Banten terletak di sebelah barat alun-alun Banten, di atas lahan seluas 0,13 hektar. Didirikan pertama kali pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin pada tahun 1566, atau tanggal 5 Zulhijah 966 H dilanjutkan pada masa pemerintahan Sultan Maulana Yusuf.

Bangunan induk masjid ini berdenah segi empat dengan atap bertingkat bersusun 5 atau dikenal dengan istilah atap tumpang. Tiga tingkat yang teratas sama runcingnya. Terdapat menara yang tingginya lebih kurang 23 meter bentuknya seperti mercusuar, pada zaman dulu digunakan sebagai tempat mengumandangkan adzan dan sebagai menara pandang ke lepas pantai.

Tiyamah (Paviliun) merupakan bangunan tambahan yang terletak di selatan masjid, berbentuk empat persegi panjang dan bertingkat, pada masanya digunakan sebagai tempat bermusyawarah dan berdiskusi mengenai keagamaan.

Terdapat juga makam para Sultan Banten dan keluarganya, seperti Makam Sultan Maulana Hasanuddin, Sultan Ageng Tirtayasa, Sultan Abdul Mufachir Muhammad Aliyudin, dan lain-lain. Masjid Agung ini berlokasi ke Kecamatan Kasemen kira-kira 10 km dari pusat Kota Serang.


2. Komplek Makam Sultan Maulana Yusuf.

Maulana Yusuf adalah putera dari Sultan Maulana Hasanuddin, beliau merupakan Sultan Banten ke-2 (1570-1580) dan banyak jasanya di bidang pertanian. Makam Sultan Maulana Yusuf terletak di Kampung Kasunyatan Desa Pekalangan Gede Kecamatan Kasemen Kota Serang. Terletak di tengah sawah tak jauh dari jalan raya menuju ke Banten Lama, sekitar 6 km dari Kota Serang.


3. Makam Pangeran Astapati/Mulyasmara.

Panngeran Astapati/Mulyasmara adalah salah seorang tokoh agama Islam di Banten yang diperkirakan berasal dari masyarakat Baduy yang masuk Islam dan mengabdikan dirinya kepada Kesultanan Banten. Terletak di Desa Kasunyatan Kecamatan Kasemen Kota Serang.


4. Masjid Kenari.

Masjid Kenari merupakan bangunan kepurbakalaan Islam dari masa Sultan Abdul Mufachir Machmud Abdul Qadir, Sultan Banten ke-4 yang di dalamnya terdapat taman yang dulunya tempat beristirahat para keluarga Sultan. Selain Makam Sultan Abdul Mufachir Machmud Abdul Qadir juga terdapat makam ibunda Sultan. Masjid ini terletak di Desa Kenari Kecamatan Kasemen kurang lebih 7 km dari Kota Serang.


5. Masjid Kasunyatan.

Masjid Kasunyatan terletak di Desa Kasunyatan, Kecamatan Kasemen, kira-kira 2 km sebelah selatan Masjid Agung Banten. Masjid ini dahulu digunakan sebagai tempat berkumpulnya para alim ulama dari berbagai daerah di Nusantara untuk mempelajari dan memperdalam mengenai agama Islam. Di samping bangunan masjid terdapat makam Ratu Asyiah dan makam keluarga Kesultanan Banten lainnya.


6. Makam Pangeran Arya Mandalika.

Pangeran Arya Mandalika adalah putera Sultan Maulana Yusuf dari isteri yang lain (bukan permaisuri Ratu Khadijah). Pangeran Arya Mandalika menjabat sebagai Panglima Perang sekaligus Menteri Perlengkapan. Makam Pangeran Arya Mandalika terletak di Kampung Kroya di pinggir jalan raya Banten, sebelum Keraton Kaibon Kecamatan Kasemen.


7. Makam Bela/Ki Buyut/Syeh Tubagus Achmad.

Makam Ki Buyut/Syeh Tubagus Achmad merupakan makam salah seorang ulama besar yang juga sufi pada masa Kesultanan Abul Mahasim Zainal Abidin. Semasa hidupnya beliau selalu membela kaum yang lemah dan sekaligus penyebar agama Islam. Makam ini berada dalam komplek makam Masjid Agung Banten.


8. Makam Syeh Tubagus Achmad dan Syeh Tubagus Chuluk (Buyut Tengkele).

Di lokasi ini terdapat beberapa makam yang tersebar dibeberapa tempat dengan jarak yang cukup berjauhan. Terdapat 17 buah makam di tempat ini, 9 buah makan diantaranya merupakan kelompok makam yang dinaungi cungkup permanen berbentuk rumah dengan makam utama R. Mas Hasani. Makam yang paling terkenal diantara ke-17 buah makam tersebut adalah makam Ki Buyut Srubut atau Srudug.


9. Makam Karundang Cipeger.

Di lokasi ini terdapat beberapa makam yang tersebar di beberapa tempat dengan jarak yang cukup berjauhan.


10. Makam Ki Tuan Syarif Penancangan.

Komplek makam ini berada di sebelah Utara Stadion Maulana Yusuf Penancangan Serang, dan merupakan pemakaman umum dengan luas sekitar 1 hektar. Tokoh yang dimakamkan dalam cungkup ini merupakan keturunan Syarif/Ayip, diantaranya tokoh yang disegani pada masanya, seperti Syarif Rubi yang pernah menjadi Bupati Bogor, Kijakrama pernah menjadi jaksa pada masa kesultanan.


11. Komplek Makam Singandaru.

Lokasi komplek makam ini terletak di Jalam Ki Uju Gg Gozali Kaujon Serang. Luas kawasan makam ini sekitar 1 hektar. Di sebelah utara berbatasan dengan parit yang diduga dahulu merupakan bekas sungai. Makam Tb. Abdurrahman atau yang bergelar Pangeran Singandaru, yang artinya sebagai cahaya yang seperti kilat merupakan silsilah ketujuh keturunan Sultan Hasanuddin. Makam Tb. Abdurrahman (Pangeran Singandaru) berada di tengah-tengah dan berada di dalam cungkup permanen berbentuk rumah.


12. Makam Ki Mas Jong dan Agus Ju (Situs Banten Girang).

Berdasarkan hasil ekskavasi dan penelitian terhadap Situs Banten Girang oleh Pusat Penelitian Arkeologi nasional dengan EFEO, jumlah pecahan keramik Cina serta sisa-sisa reruntuhan, Banten Girang merupakan bekas kota yang diperkirakan mulai berdiri pada abad ke-10 dan mencapai puncaknya abad ke 13-14 Masehi. Menurut Guillot, Banten Girang mengalami bencana yang disebabkan oleh penanklukkan Pakuan (Kerajaan Padjadjaran).
Untuk mencapai Banten Girang dapat ditempuh melalui jalan ke arah Pandeglang sampai di Desa Sempu kemudian melewati jalan sekitar seratus meter menyeberangi Sungai Cibanten, di seberang sungai inilah terdapat situs Banten Girang.
Di Banten Girang terdapat makam Ki Mas Jong dan Agus Ju. Menurut sejarah, Ki Mas Jong dan Agus Ju adalah kakak adik yang pertama masuk Islam dari penduduk Banten Girang dan menjadi pengikut setia Sultan Islam pertama Sultan Hasanuddin. Makam ini terletak di Desa Karundang (Sempu) Kecamatan Cipocok Jaya Kota Serang.


bersambung ...

SYEKH NAWAWI AL-BANTANI..

Meneladani perjuangan para Sufi yang sekaligus Mujahid (Pejuang) agama adalah cita-cita kita semua kaum mu’minin. Pada tulisan kali ini, kami sajikan tulisan tentang Biografi salah seorang Sufi Mujahid dari Nusantara yang kisah dan buah perjuangannya telah dirasakan manfaatnya oleh kaum muslimin di seluruh dunia.

Tulisan ini kami peroleh dari mengcopy ebook dari sahabat Kuswandani, yang nampaknya memperoleh dari sumber di internet…

Semoga kita bisa meneladani perjuangan dan sepak terjang Sufi, Ulama, Pejuang Agama seperti beliau…

Nama Syekh Nawawi Banten sudah tidak asing lagi bagi umat Islam Indonesia. Bahkan sering terdengar disamakan kebesarannya dengan tokoh ulama klasik madzhab Syafi’i. Imam Nawawi (w.676 H/l277 M). Melalui karya-karyanya yang tersebar di pesantren-pesantren tradisional yang sampai sekarang masih banyak dikaji, nama Syekh asal Banten ini seakan masih hidup dan terus menyertai umat memberikan wejangan ajaran Islam yang menyejukkan. Di setiap majlis ta’lim karyanya selalu dijadikan rujukan utama dalam berbagai ilmu; dari ilmu tauhid, fiqh, tasawuf sampai tafsir. Karya-karyanya sangat berjasa dalam mengarahkan mainstrim keilmuan yang dikembangkan di lembaga-lembaga pesantren yang berada di bawah naungan NU.

Di kalangan komunitas pesantren Syekh Nawawi tidak hanya dikenal sebagai ulama penulis kitab, tapi juga ia adalah mahaguru sejati (the great scholar). Nawawi telah banyak berjasa meletakkan landasan teologis dan batasan-batasan etis tradisi keilmuan di lembaga pendidikan pesantren. Ia turut banyak membentuk keintelektualan tokoh-tokoh para pendiri pesantren yang sekaligus juga banyak menjadi tokoh pendiri organisasi Nahdlatul Ulama (NU).

Apabila Syekh Hasyim Asyari sering disebut sebagai tokoh yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah berdirinya NU, maka Syekh Nawawi adalah guru utamanya. Di sela-sela pengajian kitab-kitab karya gurunya ini, seringkali SYEKHHasyim Asyari bernostalgia bercerita tentang kehidupan Syekh Nawawi, kadang mengenangnya sampai meneteskan air mata karena besarnya kecintaan beliau terhadap Syekh Nawawi.

Riwayat Hidup Syekh Nawawi
Syekh Nawawi Banten memiliki nama lengkap Abu Abd al-Mu’ti Muhammad Nawawi ibn Umar al- Tanara al-Jawi al-Bantani. Ia lebih dikenal dengan sebutan Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani. Dilahirkan di Kampung Tanara, Serang, Banten pada tahun 1815 M/1230 H. Pada tanggal 25 Syawal 1314 H/1897 M. Nawawi menghembuskan nafasnya yang terakhir di usia 84 tahun. Ia dimakamkan di Ma’la dekat makam Siti Khadijah, Ummul Mukminin istri Nabi. Sebagai tokoh kebanggaan umat Islam di Jawa khususnya di Banten, Umat Islam di desa Tanara, Tirtayasa Banten setiap tahun di hari Jum’at terakhir bulan Syawwal selalu diadakan acara khol untuk memperingati jejak peninggalan Syekh Nawawi Banten.

Ayahnya bernama Syekh Umar, seorang pejabat penghulu yang memimpin Masjid. Dari silsilahnya, Nawawi merupakan keturunan kesultanan yang ke-12 dari Maulana Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati, Cirebon), yaitu keturunan dari putra Maulana Hasanuddin (Sultan Banten I) yang bemama Sunyararas (Tajul ‘Arsy). Nasabnya bersambung dengan Nabi Muhammad melalui Imam Ja’far As- Shodiq, Imam Muhammad al Baqir, Imam Ali Zainal Abidin, Sayyidina Husen, Fatimah al-Zahra.

Pada usia 15 tahun, ia mendapat kesempatan untuk pergi ke Mekkah menunaikan ibadah haji. Di sana ia memanfaatkannya untuk belajar ilmu kalam, bahasa dan sastra Arab, ilmu hadis, tafsir dan terutama ilmu fiqh. Setelah tiga tahun belajar di Mekkah ia kembali ke daerahnya tahun 1833 dengan khazanah ilmu keagamaan yang relatif cukup lengkap untuk membantu ayahnya mengajar para santri.

Nawawi yang sejak kecil telah menunjukkan kecerdasannya langsung mendapat simpati dari masyarakat Kedatangannya membuat pesantren yang dibina ayahnya membludak didatangi oleh santri yang datang dari berbagai pelosok. Namun hanya beberapa tahun kemudian ia memutuskan berangkat lagi ke Mekkah sesuai dengan impiannya untuk mukim dan menetap di sana.

Di Mekkah ia melanjutkan belajar ke guru-gurunya yang terkenal, pertama kali ia mengikuti bimbingan dari Syeikh Ahmad Khatib Sambas (Penyatu Thariqat Qodiriyah-Naqsyabandiyah di Indonesia) dan SyekhAbdul Gani Duma, ulama asal Indonesia yang bermukim di sana. Setelah itu belajar pada Sayid Ahmad Dimyati, Ahmad Zaini Dahlan yang keduanya di Mekkah. Sedang di Madinah, ia belajar pada Muhammad Khatib al-Hanbali. Kemudian ia melanjutkan pelajarannya pada ulama-ulama besar di Mesir dan Syam (Syiria). Menurut penuturan Abdul Jabbar bahwa Nawawi juga pemah melakukan perjalanan menuntut ilmunya ke Mesir. Salah satu Guru utamanya pun berasal dari Mesir seperti SyekhYusuf Sumbulawini dan SyekhAhmad Nahrawi.

Setelah ia memutuskan untuk memilih hidup di Mekkah dan meninggalkan kampung halamannya ia menimba ilmu lebih dalam lagi di Mekkah selama 30 tahun. Kemudian pada tahun 1860 Nawawi mulai mengajar di lingkungan Masjid al-Haram. Prestasi mengajarnya cukup memuaskan karena dengan kedalaman pengetahuan agamanya, ia tercatat sebagai Ulama di sana. Pada tahun 1870 kesibukannya bertambah karena ia harus banyak menulis kitab.
Inisiatif menulis banyak datang dari desakan sebagian koleganya yang meminta untuk menuliskan beberapa kitab. Kebanyakan permintaan itu datang dari sahabatnya yang berasal dari Jawi, karena dibutuhkan untuk dibacakan kembali di daerah asalnya. Desakan itu dapat terlihat dalam setiap karyanya yang sering ditulis atas permohonan sahabatnya. Kitab-kitab yang ditulisnya sebagian besar adalah kitab-kitab komentar (Syarh)
dari karya-karya ulama sebelumnya yang populer dan dianggap sulit dipahami.

Alasan menulis Syarh selain karena permintaan orang lain, Nawawi juga berkeinginan untuk melestarikan karya pendahulunya yang sering mengalami perubahan (ta’rif) dan pengurangan. Dalam menyusun karyanya Nawawi selalu berkonsultasi dengan ulama-ulama besar lainnya, sebelum naik cetak naskahnya terlebih dahulu dibaca oleh mereka. Dilihat dari berbagai tempat kota penerbitan dan seringnya mengalami cetak ulang sebagaimana terlihat di atas maka dapat dipastikan bahwa karya tulisnya cepat tersiar ke berbagai penjuru dunia sampai ke daerah Mesir dan Syiria.

Karena karyanya yang tersebar luas dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan padat isinya ini, nama Nawawi bahkan termasuk dalam kategori salah satu ulama besar di abad ke 14 H/19 M. Karena kemasyhurannya ia mendapat gelar: A ‘yan ‘Ulama’ al-Qarn al-Ra
M’ ‘Asyar Li al-Hijrah,. AI-Imam al-Mul1aqqiq wa al-Fahhamah al-Mudaqqiq, dan Sayyid ‘Ulama al-Hijaz.

Kesibukannya dalam menulis membuat Nawawi kesulitan dalam mengorganisir waktu sehingga tidak jarang untuk mengajar para pemula ia sering mendelegasikan siswa-siswa seniornya untuk membantunya. Cara ini kelak ditiru sebagai metode pembelajaran di beberapa pesantren di pulau Jawa. Di sana santri pemula dianjurkan harus menguasai beberapa ilmu dasar terlebih dahulu sebelum belajar langsung pada Syekhagar proses pembelajaran dengan Syekh tidak mengalami kesulitan.

Bidang Teologi

Karya-karya besar Nawawi yang gagasan pemikiran pembaharuannya berangkat dari Mesir, sesungguhnya terbagi dalam tujuh kategorisasi bidang; yakni bidang tafsir, tauhid, fiqh, tasawuf, sejarah nabi, bahasa dan retorika. Hampir semua bidang ditulis dalam beberapa kitab kecuali bidang tafsir yang ditulisnya hanya satu kitab. Dari banyaknya karya yang ditulisnya ini dapat jadikan bukti bahwa memang Syeikh Nawawi adalah seorang menulis produktif multidisiplin, beliau banyak mengetahui semua bidang keilmuan Islam. Luasnya wawasan pengetahuan Nawawi yang tersebar membuat kesulitan bagi pengamat untuk menjelajah seluruh pemikirannya secara konprehenshif-utuh.

Dalam beberapa tulisannya seringkali Nawawi mengaku dirinya sebagai penganut teologi Asy’ari (al-Asyari al-I’tiqodiy). Karya-karyanya
yang banyak dikaji di Indonesia di bidang ini dianranya Fath ai-Majid, Tijan al-Durari, Nur al Dzulam, al-Futuhat al-Madaniyah, al-Tsumar al-
Yaniah, Bahjat al-Wasail, Kasyifat as-Suja dan Mirqat al-Su’ud. Sejalan dengan prinsip pola fikir yang dibangunnya, dalam bidang teologi Nawawi mengikuti aliran teologi Imam Abu Hasan al-Asyari dan Imam Abu Manshur al-Maturidi.

Sebagai penganut Asyariyah Syekh Nawawi banyak memperkenalkan konsep sifa-sifat Allah. Seorang muslim harus mempercayai bahwa Allah memiliki sifat yang dapat diketahui dari perbuatannya, karena sifat Allah adalah perbuatanNya. Dia membagi sifat Allah dalam tiga bagian : wajib, mustahil dan mumkin. Sifat Wajib adalah sifat yang pasti melekat pada Allah dan mustahil tidak adanya, dan mustahil adalah sifat yang pasti tidak
melekat pada Allah dan wajib tidak adanya, sementara mumkin adalah sifat yang boleh ada dan tidak ada pada Allah.

Meskipun Nawawi bukan orang pertama yang membahas konsep sifatiyah Allah, namun dalam konteks Indonesia Nawawi dinilai orang yang berhasil memperkenalkan teologi Asyari sebagai sistem teologi yang kuat di negeri ini.

Kemudian mengenai dalil naqliy dan ‘aqliy, menurutnya harus digunakan bersama-sama, tetapi terkadang bila terjadi pertentangan di antara keduanya maka naql harus didahulukan. Kewajiban seseorang untuk meyakini segala hal yang terkait dengan keimanan terhadap keberadaan Allah hanya dapat diketahui oleh naql, bukan dari aql. Bahkan tiga sifat di atas pun diperkenalkan kepada Nabi. Dan setiap mukallaf diwajibkan untuk menyimpan rapih pemahamannya dalam benak akal pikirannya.

Tema yang perlu diketahui di sini adalah tentang Kemahakuasaan Allah (Absolutenes of God). Sebagaimana teolog Asy’ary lainnya, Nawawi menempatkan dirinya sebagai penganut aliran yang berada di tengah-tengah antara dua aliran teologi ekstrim: Qadariyah dan Jabbariyah,
sebagaimana dianut oleh ahlussunnah wal-Jama’ah. Dia mengakui Kemahakuasaan Tuhan tetapi konsepnya ini tidak sampai pada konsep
jabariyah yang meyakini bahwa sebenamya semua perbuatan manusiaitu dinisbatkan pada Allah dan tidak disandarkan pada daya manusia,
manusia tidak memiliki kekuatan apa-apa.

Untuk hal ini dalam konteks Indonesia sebenamya Nawawi telah berhasil membangkitkan dan menyegarkan kembali ajaran Agama dalam bidang teologi dan berhasil mengeliminir kecenderungan meluasnya konsep absolutisme Jabbariyah di Indonesia dengan konsep tawakkal bi Allah.
Sayangnya sebagian sejarawan modem terlanjur menuding teologi Asyariyah sebagai sistem teologi yang tidak dapat menggugah perlawanan kolonialisme.

Padahal fenomena kolonialisme pada waktu itu telah melanda seluruh daerah Islam dan tidak ada satu kekuatan teologi pun yang dapat melawannya, bahkan daerah yang bukan Asyariyah pun turut terkena. Dalam konteks Islam Jawa teologi Asyariyah dalam kadar tertentu sebenamya telah dapat menumbuhkan sikap merdekanya dari kekuatan lain setelah tawakkal kepada Allah.

Melalui konsep penyerahan diri kepada Allah umat Islam disadarkan bahwa tidak ada kekuatan lain kecuali Allah. Kekuatan Allah tidak terkalahkan oleh kekuatan kolonialis. Di sinilah letak peranan Syekh Nawawi dalam pensosialisasian teologi Asyariyahnya yang terbukti dapat menggugah para muridnya di Mekkah berkumpul dalam “koloni Jawa”.Dalam beberapa kesempatan Nawawi sering memprovokasi bahwa bekerja sama dengan kolonial Belanda (non muslim) haram hukumnya. Dan seringkali kumpulan semacam ini selalu dicurigai oleh kolonial Belanda karena memiliki potensi melakukan perlawanan pada mereka.

Sementara di bidang fikih tidak berlebihan jika Syeikh Nawawi dikatakan sebagai “obor” mazhab imam Syafi’i untuk konteks Indonesia. Melalui karya-karya fiqhnya seperti Syarh Safinat a/-Naja, Syarh Sullam a/-Taufiq, Nihayat a/-Zain fi Irsyad a/-Mubtadi’in dan Tasyrih a/a Fathul Qarib,sehingga Syekh Nawawi berhasil memperkenalkan madzhab Syafi’i secara sempurna Dan, atas dedikasi Syekh Nawawi yang mencurahkan hidupnya hanya untuk mengajar dan menulis mendapat apresiasi luas dari berbagai kalangan.

Hasil tulisannya yang sudah tersebar luas setelah diterbitkan di berbagai daerah memberi kesan tersendiri bagi para pembacanya. Pada tahun
1870 para ulama Universitas alAzhar Mesir pemah mengundangnya untuk memberikan kuliah singkat di suatu forum diskusi ilmiyah. Mereka tertarik untuk mengundangnya karena nama Syekh Nawawi sudah dikenal melalui karya-karyanya yang telah banyak tersebar di Mesir.

Sufi Brilian

Sejauh itu dalam bidang tasawuf, Nawawi dengan aktivitas intelektualnya mencerminkan ia bersemangat menghidupkan disiplin ilmu-ilmu agama. Dalam bidang ini ia memiliki konsep yang identik dengan tasawuf. Dari karyanya saja Nawawi menunjukkan seorang sufi brilian, ia banyak memiliki tulisan di bidang tasawuf yang dapat dijadikan sebagai rujukan standar bagi seorang sufi.

Brockleman, seorang penulis dari Belanda mencatat ada 3 karya Nawawi yang dapat merepresentasikan pandangan tasawufnya : yaitu Misbah al-
Zulam, Qami’ al-Thugyan dan Salalim al Fudala. Di sana Nawawi banyak sekali merujuk kitab Ihya ‘Ulumuddin alGazali. Bahkan kitab ini merupakan rujukan penting bagi setiap tarekat. Pandangan tasawufnya meski tidak tergantung pada gurunya (pamannya sendiri) Syekh Abdul Karim, seorang ulama tasawuf asal Jawi yang memimpin sebuah organisasi tarekat, Namun atas pilihan karir dan pengembangan spesialisasi ilmu penegatahuan yg ditekuni serta tuntutan masyarakat beliau tidak mengembangkan metoda tarbiyah tasawuf seperti guru2nya.

Ketasawufan beliau dapat dilihat dari pandangannya terhadap keterkaitan antara praktek tarekat, syariat dan hakikat sangat erat. Untuk memahami lebih mudah dari keterkaitan ini Nawawi mengibaratkan syariat dengan sebuah kapal, tarekat dengan lautnya dan hakekat merupakan intan dalam lautan yang dapat diperoleh dengan kapal berlayar di laut. Dalam proses pengamalannya Syariat (hukum) dan tarekat merupakan awal dari perjalanan (ibtida’i) seorang sufi, sementara hakikat adalah basil dari syariat dan tarikat.

Pandangan ini mengindikasikan bahwa Syekh Nawawi tidak menolak praktek-praktek tarekat selama tarekat tersebut tidak mengajarkan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Islam, syariat. Paparan konsep tasawufnya ini tampak pada konsistensi dengan pijakannya terhadap pengalaman spiritualitas ulama salaf. Tema-teman yang digunakan tidak jauh dari rumusan ulama tasawuf klasik. Model paparan tasawuf inilah yang membuat Nawawi harus dibedakan dengan tokoh sufi Indonesia lainnya. la dapat dibedakan dari karakteristik tipologi tasawuf Indonesia, seperti Hamzah Fansuri, Nuruddin al-Raniri, Abdurrauf Sinkel dan sebagainya.

Tidak seperti sufi Indonesia lainnya yang lebih banyak porsinya dalam menyadur teori-teori genostik Ibnu Arabi, Nawawi justru menampilkan tasawuf yang moderat antara hakikat dan syariat. Dalam formulasi pandangan tasawufnya tampak terlihat upaya perpaduan antara fiqh dan tasawuf. Ia lebih Gazalian (mengikuti Al-Ghazali) dalam hal ini.

Dalam kitab tasawufnya Salalim al-Fudlala, terlihat Nawawi bagai seorang sosok al-Gazali di era modern. Ia lihai dalam mengurai kebekuan dikotomi fiqh dan tasawuf. Sebagai contoh dapat dilihat dari pandangannya tentang ilmu alam lahir dan ilmu alam batin. Ilmu lahiriyah dapat diperoleh dengan proses ta’alum (berguru) dan tadarrus (belajar) sehingga mencapai derajat ‘alim sedangkan ilmu batin dapat diperoleh melului proses dzikr, muraqabah dan musyahadah sehingga mencapai derajat ‘Arif.

Seorang Abid diharapkan tidak hanya menjadi alim yang banyak mengetahui ilmu-ilmu lahir saja tetapi juga harus arif, memahami rahasia spiritual ilmu batin. Bagi Nawawi Tasawuf berarti pembinaan etika (Adab). Penguasaan ilmu lahiriah semata tanpa penguasaan ilmu batin akan berakibat
terjerumus dalam kefasikan, sebaliknya seseorang berusaha menguasai ilmu batin semata tanpa dibarengi ilmu lahir akan terjerumus ke dalam zindiq. Jadi keduanya tidak dapat dipisahkan dalam upaya pembinaan etika atau moral (Adab).

Selain itu ciri yang menonjol dari sikap kesufian Nawawi adalah sikap moderatnya. Sikap moderat ini terlihat ketika ia diminta fatwanya oleh
Sayyid Ustman bin Yahya, orang Arab yang menentang praktek tarekat di Indonesia, tentang tasawuf dan praktek tarekat yang disebutnya
dengan “sistem yang durhaka”. Permintaan Sayyid Ustman ini bertujuan untuk mencari sokongan dari Nawawi dalam mengecam praktek tarekat yang dinilai oleh pemerintah Belanda sebagai penggerak pemberontakan Banten 1888. Namun secara hati-hati Nawawi menjawab dengan. bahasa yang manis tanpa menyinggung perasaan Sayyid Ustman. Sebab Nawawi tahu bahwa di satu sisi ia memahami kecenderungan masyarakat Jawi yang senang akan dunia spiritual di sisi lain ia tidak mau terlibat langsung dalam persoalan politik.

Setelah karyanya banyak masuk di Indonesia wacana keIslaman yang dikembangkan di pesantren mulai berkembang.. Misalkan dalam laporan penelitian Van Brunessen dikatakan bahwa sejak tahun 1888 M, bertahap kurikulum pesantren mulai acta perubahan mencolok. Bila sebelumnya seperti dalam catatan Van Den Berg dikatakatan tidak ditemukan sumber referensi di bidang Tafsir, Ushl al-Fiqh dan Hadits, sejak saat itu bidang keilmuan yang bersifat epistemologis tersebut mulai dikaji. Menurutnya perubahan tiga bidang di atas tidak terlepas dari jasa tiga orang alim Indonesia yang sangat berpengaruh: Syekh Nawawi Banten sendiri yang telah berjasa dalam menyemarakkan bidang tafsir, Syekh Ahmad Khatib (w. 1915) yang telah berjasa mengembangkan bidang Ushul Fiqh dengan kitabnya al-Nafahat ‘Ala Syarh al-Waraqat, dan Syekh Mahfuz Termas (1919 M) yang telah berjasa dalam bidang Ilmu Hadis.

Sebenarnya karya-karya Nawawi tidak hanya banyak dikaji dan dipelajari di seluruh pesantren di Indonesia tetapi bahkan di seluruh wilayah Asia Tenggara. Tulisan-tulisan Nawawi dikaji di lembaga-lembaga pondok tradisional di Malaysia, Filipina dan Thailand. Karya Nawawi diajarkan di sekolah-sekolah agama di Mindanao (Filipina Selatan), dan Thailand. Menurut Ray Salam T. Mangondanan, peneliti di Institut Studi Islam, University of Philippines, pada sekitar 40 sekolah agama di Filipina Selatan yang masih menggunakan kurikulum tradisional.

Selain itu Sulaiman Yasin, seorang dosen di Fakultas Studi Islam, Universitas Kebangsaan di Malaysia, mengajar karya-karya Nawawi sejak periode 1950-1958 di Johor dan di beberapa sekolah agama di Malaysia. Di kawasan Indonesia menurut Martin Van Bruinessen yang sudah meneliti kurikulum kitab-kitab rujukan di 46 Pondok Pesantren Klasik 42 yang tersebar di Indonesia mencatat bahwa karya-karya Nawawi memang mendominasi kurikulum Pesantren. Sampai saat ia melakukan penelitian pada tahun 1990 diperkirakan pada 22 judul tulisan Nawawi yang masih dipelajari di sana.

Dari 100 karya populer yang dijadikan contoh penelitiannya yang banyak dikaji di pesantren-pesantren terdapat 11 judul populer di antaranya adalah karya Nawawi.

Penyebaran karya Nawawi tidak lepas dari peran murid-muridnya. Di Indonesia murid-murid Nawawi termasuk tokoh-tokoh nasional Islam yang cukup banyak berperan selain dalam pendidikan Islam juga dalam perjuangan nasional. Di antaranya adalah : K.H Hasyim Asyari dari Tebuireng Jombang, Jawa Timur. (Pendiri organisasi Nahdlatul Ulama), K.H Kholil dari Bangkalan, Madura, Jawa Timur, K.H Asyari dari Bawean, yang menikah dengan putri Syekh Nawawi, Nyi Maryam, K.H Najihun dari Kampung Gunung, Mauk, Tangerang yang menikahi cucu perempuan Syekh Nawawi, Nyi Salmah bint Rukayah bint Nawawi, K.H Tubagus Muhammad Asnawi dari Caringin Labuan, Pandeglang Banten, K.H Ilyas dari kampung Teras, Tanjung Kragilan, Serang , Banten, K.H Abd Gaffar dari Kampung Lampung, Kec. Tirtayasa, Serang Banten, K.H Tubagus Bakri dari Sempur, Purwakarta, KH. Jahari Ceger Cibitung Bekasi Jawa Barat. Penyebaran karyanya di sejumlah pesantren yang tersebar di seluruh wilayah nusantara ini memperkokoh pengaruh ajaran Nawawi.

Penelitian Zamakhsyari Dhofir mencatat pesantren di Indonesia dapat dikatakan memiliki rangkaian geneologi yang sama. Polarisasi pemikiran modernis dan tradisionalis yang berkembang di Haramain seiring dengan munculnya gerakan pembaharuan Afghani dan Abduh, turut mempererat soliditas ulama tradisional di Indonesia yang sebagaian besar adalah sarjana-sarjana tamatan Mekkah dan Madinah. Bila ditarik simpul pengikat di sejumlah pesantren yang ada maka semuanya dapat diurai peranan kuatnya dari jasa enam tokoh ternama yang sangat menentukan wama jaringan intelektual pesantren.
Mereka adalah Syekh Ahmad Khatib Syambas, Syekh Nawawi Banten, Syekh Abdul Karim Tanara, Syekh Mahfuz Termas, Syekh Kholil Bangkalan Madura, dan Syekh Hasyim Asy’ari. Tiga tokoh yang pertama merupakan guru dari tiga tokoh terakhir. Mereka berjasa dalam menyebarkan ide-ide pemikiran gurunya.

Karyakarya Syekh Nawawi yang tersebar di beberapa pesantren, tidak lepas dari jasa mereka. K.H. Hasyim Asya’ari, salah seorang murid Nawawi
terkenal asal Jombang, sangat besar kontribusinya dalam memperkenalkan kitab-kitab Nawawi di pesantren-pesantren di Jawa. Dalam merespon gerakan reformasi untuk kembali kepada al-Qur’an di setiap pemikiran Islam, misalkan, K.H. Hasyim Asya’ari lebih cenderung untuk memilih pola penafsiran Marah Labid karya Nawawi yang tidak sarna sekali meninggalkan karya ulama Salaf.

Meskipun ia senang membaca Kitab tafsir al-Manar karya seorang reformis asal Mesir, Muhammad Abduh, tetapi karena menurut penilaiannya Abduh terlalu sinis mencela ulama klasik ia tidak mau mengajarkannya pada santri dan ia lebih senang memilih kitab gurunya. Dua tokoh murid Nawawi lainnya berjasa di daerah asalnya. Syekh Kholil Bangkalan dengan pesantrennya di Madura tidak bisa dianggap kecil perannya dalam
penyebaran karya Nawawi.

Begitu juga dengan Syekh Abdul Karim yang berperan di Banten dengan Pesantrennya, dia terkenal dengan nama Syekh Ageng. Melalui tarekat Qadiriyah wan Naqsyabandiyah Ki Ageng menjadi tokoh sentral di bidang tasawuf di daerah Jawa Barat. Kemudian ciri geneologi pesantren yang satu sarana lain terkait juga turut mempercepat penyebaran karya-karya Nawawi, sehingga banyak dijadikan referensi utama. Bahkan untuk kitab tafsir karya Nawawi telah dijadikan sebagai kitab tafsir kedua atau ditempatkan sebagai tingkat mutawassith (tengah) di dunia Pesantren setelah tafsir Jalalain.

Peranan Syekh, para pemimpin pondok pesantren dalam memperkenalkan karya Nawawi sangat besar sekali. Mereka di berbagai pesantren merupakan ujung tombak dalam transmisi keilmuan tradisional Islam. Para Syekhdidikan K.H Hasyim Asyari memiliki semangat tersendiri dalam mengajarkan karya-karya Nawawi sehingga memperkuat pengaruh pemikiran Nawawi.

Dalam bidang tasawuf saja kita bisa menyaksikan betapa ia banyak mempengaruhi wacana penafsiran sufistik di Indonesia. Pesantren yang menjadi wahana penyebaran ide penafsiran Nawawi memang selain mejadi benteng penyebaran ajaran tasawuf dan tempat pengajaran kitab kuning juga merupakan wahana sintesis dari dua pergulatan antara tarekat heterodoks versus tarekat ortodoks di satu sisi dan pergulatan antara gerakan fiqh versus gerakan tasawuf di sisi lain.

Karya-karnya di bidang tasawuf cukup mempunyai konstribusi dalam melerai dua arus tasawuf dan fiqh tersebut. Dalam hal ini Nawawi, ibarat alGazali, telah mendamaikan dua kecenderungan ekstrim antara tasawuf yang menitik beratkan emosi di satu sisi dan fiqh yang cenderung rasionalistik di sisi lain.

Sumber :
www.al-hasani.com

BIOGRAFI NYAI AGENG SERANG

Nyi Ageng Serang bernama asli Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi. Beliau lahir di Serang, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah pada tahun 1762. Sebutan Nyi Ageng Serang dikaitkan dengan desa tempat kelahirannya yaitu desa Serang yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur (bukan kota Serang Jawa Barat). Desa Serang menjadi terkenal, semula karena menjadi Markas Besar perjuangan Natapraja atau Penembahan Natapraja, yaitu rekan perjuangan Mangkubumi dalam Perang Giyanti tersebut.

Beliau adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia. Beliau adalah putri bungsu dari Bupati Serang, Panembahan Natapraja yang menguasai wilayah terpencil dari kerajaan Mataram tepatnya di Serang yang sekarang wilayah perbatasan Purwodadi - Sragen. Setelah ayahnya wafat, Nyi Ageng Serang menggantikan kedudukan ayahnya. Nyi Ngeng Serang adalah salah satu keturunan Sunan Kalijaga, ia juga mempunyai keturunan seorang pahlawan nasional yaitu Suwardi Suryaningrat atau Ki Hajar Dewantara. Ia dimakamkan di Kalibawang, Kulon Progo. Beliau pahlawan nasional yang hampir terlupakan, mungkin karena namanya tak sepopuler RA Kartini atau Cut Nyak Dien, tetapi beliau sangat berjasa bagi negeri ini. Warga Kulonprogo mengabadikan monumen beliau di tengah kota Wates berupa patung beliau sedang menaiki kuda dengan gagah berani membawa tombak.

Meski merupakan putra bangsawan, namun sejak kecil Nyi Ageng Serang dikenal dekat dengan rakyat. Setelah dewasa dia juga tampil sebagai salah satu panglima perang melawan penjajah. Semangatnya untuk bangkit selain untuk membela rakyat, juga dipicu kematian kakaknya saat membela Pangeran Mangkubumi melawan Paku Buwana I yang dibantu Belanda.

Yang sangat menonjol dari sejarah perilaku dan perjuangan Pahlawan Wanita ini antara lain ialah kemahirannya dalam krida perang, kepemimpinan yang arif bijaksana sehingga menjadi suri tauladan bagi penganut-penganutnya. Tekadnya keras untuk lebh maju dalam berbagai bidang, dengan jiwa patriotisme dan anti penjajahan yang kuat dan konsekuen. Imannya teguh terhadap Allah SWT dan terampil dalam menjalankan peran gandanya sebagai pejuang sekalligus istri/ibu rumah tangga dan pendidik utama putra-putranya.

Sebutan Nyi Ageng Serang dikaitkan dengan kota tempat kelahirannya yaitu kota Serang yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur (bukan kota Serang Jawa Barat). Kota Serang menjadi terkenal, semula karena menjadi Markas Besar perjuangan Natapraja atau Penembahan Natapraja, yaitu rekan perjuangan Mangkubumi dalam Perang Giyanti tersebut.

Nyi Ageng Serang mewarisi jiwa dan sifat ayahandanya yang sangat benci kepada penjajahan Belanda (VOC) dan memiliki patriotisme yang tinggi.

Menyimpang dari adat kebiasaan yang masih kuat mengingat kaum wanita masa itu, Nyi Ageng Serang mengikuti latihan-latihan kemiliteran dan siasat perang bersama-bersama dengan para prajurit pria.

Keberaniannya sangat mengagumkan, dalam kehidupannya sehari-hari beliau sangat berdisiplin dan pandai mengatur serta memanfaatkan waktu untuk kegiatan-kegatan yang bermanfaat.

Pandangannya sangat tajam dan menjangkau jauh ke depan. Menurut keyakinannya, selama ada penjajahan di bumi pertiwi, selama itu pula rakyat harus siap tempur untuk melawan dan mengusir penjajah. Karena itu rakyat terutama pemudanya dilatih terus-menerus dalam ha kemahiran berperang.

Hal itu rupanya dapat diketahui oleh penjajah Belanda. Karenanya pada suatu ketika mereka mengadakan penyerbuan secara mendadakan terhadap kubu pertahanan Pangeran Natapraja bersama putra-putrinya itu, dengan kekuatan tentara yang besar. Karena usianya sudah lanjut, pemimpin pertahanan Serang di serahkan kepada nyi Ageng Searang bersama putranya laki-laki.

Walaupun diserang dengan mendadak dan dengan jumlah dan kekuatan tentara besar, pasukan Serang tetap berjuang dengan gigih dan melakukan perlawanan mati-matian.

Dalam suatu pertempuran yang sangat sengit putra Penembahan Natapraja saudara laki-laki nyi Ageng Serang, gugur. Pimpinan dipegang langsung sendiri oleh Nyi Ageng Serang dan bejuang terus dengan gagah berani.

Namun demikian, karena jumlah dan kekuatan musuh memang jauh lebih besar, sedangkan rekan seperjuangannya yaitu Pangeran Mangkubumi tidak membantu lagi karena mengadakan perdamaian dengan Belanda berdasarkan perjanjian Giyanti. (13 Februari 1755), maka akhirnya pasukan Serang terdesak, dan banyak yang gugur sehingga tidak mungkin melanjutkan perlawan lagi. Walaupun Nyi Ageng Serang tidak mau menyerahkan diri, akhirnya tertangkap juga dan menjadi tawanan Belanda.

Panembahan Natapraja sudah makin lanjut usia dan menderita batin yang mendalam dengan terjadinya peristiwa-peristiwa tersebut. Akhirnya beliau jatuh sakit dan wafat.

Selama Nyi Ageng Serang dalam tahanan Belanda, terjadi perubahan-perubahan pending di Yogyakarta. Pangeran Mangkubumi yang bergelar Sultan Hamengkubuwono I telah diganti Sultan Hamengkubuwono II.

Bertepatan dengan Upacara Penobatan Sulatan Hamengkubuwono II itu, Nyi Ageng Serang dibebaskan dari tahanan Belanda dan bahkan diantarkan ke Yogyakarta untuk diserahkan kepada Sri Sultan. Entah apa latar belakang yang sedungguhnya sehingga hal itu terjadi. Yang dapat diketahui dengan jelas ialah bahwa kedatangan Nyi Ageng Serang di Yogyakarta disambut secara besar-besaran dengan tata cara penghormatan yang tinggi sesuai adat keraton. Upacara itu dilakukan mengingat jasa dan patriotosme almarhum Panembahan Natapraja dan Nyi Ageng Serang serta keharuman nama Pahlawan Nasional Wanita itu sendiri.

Tetapi kehormatan dan kemuliaan yang diterimanya di Keraton Yogyakarta itu tidak dapat mengurangi prinsip pendiriannya yang anti penjajahan. Jiwa patriotisme tetap berkembang subur. Cita-citanya untuk mengusir penjajahan Belanda tetap menggelora.

Namun beliau sebagai ahli krida dan siasat perang tahu benar bahwa saatnya masih belum tepat untuk melanjutkan lagi perjuangannya. Dan selama waktu menunggu saat yang baik itu, beliau memanfaatkan waktunya untuk memperkuat potensi rohaniah/spiritualnya dengan cara samadi/tirakat mendekatkan diri lahir-batin kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Maka timbullah kemudian keinginannya untuk kembali ke Serang yaitu kota tumpah darahnya dan yang mempunyai arti khusus baginya. Permohonannya untuk kembali ke kota tersebut dikabulkan oleh Sultan Hamengkubuwono II dan kepergiannya bahkan diantarkan dengan penghormatan dan kebesaran.

Nyi Ageng kemudian menikah dengan seorang pangeran bernama Kusumawijaya yang ternyata sangat membahagiakannya. Bukan karena pangeran itu membawakan harta-kekayaan yang banyak, tetapi justru karena suaminya itu memiliki jiwa cinta tanah air yang tidak kalah kuatnya. Dari perkawinan ini Nyi Ageng dikaruniai seorang putra dan seorang putri.

Dalam perkembangan waktu berikutnya makin terungkap bahwa Sultan Hamengkubuwono II itu ternyata adalah juga patriot tangguh. Melihat sikap dan tingkah laku penjajah Belanda yang makin hari makin menyinggung perasaan dan menyakitkan hati itu, makin menigkatkan rasa bencinya terhadap Belanda.

Di samping itu makin meningkatnya pula rasa kagum dan penghargaannya terhadap sikap dan pendirian serta perjuangan almarhum Panembahan Natapraja dan Nyi Ageng Serang. Timbullah hasrat Sri Sultan untuk mempererat tali persahabatan dengan anak keturunan Natapraja itu. Atas kesepakatan kedua pihak maka putra laki-laki Sultan Hamengkubuwono II dinikahkan dengan putrid Nyi Ageng Serang dan Pangeran Kusumawijaya. Dari perkawinan itu Nyi Ageng memperoleh cucu laki-laki yang diberi nama raden Mas Papak (disebut pula Pangeran Aria Papak).

Hubungan yang tidak selaras-serasi antara pihak Sultan dengan pihak Belanda itu makin memuncakan dan gawat setelah diangkatnya Daendels menjadi Gubernur Jendral Pemerintah Belanda di Indonesia. Daendels watak dan tingkahlakunya keras dan conkak, juga terhadap Kesultanan. Dia antara lain tidak mau mengikuti adat tata cara yang berlaku bagi tamu-tamu di Keraton bahkan melancarkan intrik-intrik memecah belah persatuan di lingkungan keraton. Kemurkaan Sri Sultan Hamengkubuwono II tak dapat tertahan lagi dan timbullah bentrikan terbuka antara Sultan dan Belanda.

Rupanyan “jarum-jarum” pemecah belah yang sisusupkan oleh ihak Belanda menemui sasarannya juga, sehingga timbullah pengkhianata-pengkhianat dalan lingkungan keraton, dengan akibat Sultan Hamengkubuwono II dapat dipaksa turun takhta oleh Belanda dan Sekutu dalamnya dan digantikan oleh Pangeran Adipati Anom (Pangeran Makhkota yang masih muda dan lemah pendiriannya) yang diangkat oleh Daendels menjadi Sultan Hamengkubuwono III.

Kekacauan timbul yang makin menjadi berlarut-larut dan tak terkendalikan, hingga akhirnya terjadilah peristiwa bersejarah yang menyebabkan pecahnya perang Diponegoro yang terkenal itu.

Semangat patriot dan rasa bencinya Nyi Ageng Serang terhadap Belanda yang sangat mendalam selama waktu itu terpendam dengan terjadinya peristiwa tersebut. Bagaikan bara api yang tersiram minyak, sehingga kembali berkobar lagi. Nyi Ageng Serang bangkit serentak bersama suami dan pengikut-pengikutnya langsung mengambil sikap nyata memihak kepada Pangeran Dionegoro dan melancarkan perlawanan terhadap Belanda. Suaminya gugur dalam pertempuran, bersannya yaitu (bekas) Sulatan Hamengkubuwono II dibuang oleh Belanda ke Penang, anak menantunya ialah Pangeran Aria Mangkudiningrat (putra Sultan Hamengkubuwono II) juga dibuang ke Penang. Sebelum itu Nyi Ageng Serang telah kehilangan ayahandanya, saudara laki-lakinya dan suaminya yang semuanya gugur di medan perang.

Sungguh berat pengorbanan dan derita batin yang harus dipikul oleh Nyi Ageng Serang. Namun semuanya itu beliau hadapi dengan tabah. Semangat dan tekadnya untuk melawan penjajah tidak kendor seujung rambut pun. Harapannya tercurah pada cucunya yaitu Raden Mas Papak. Nyi Ageng Serang mendidik dan menggemlengnya dengan semangat patriot sejati, serta melatihnya dalam hal ketrampilan serta sisat dan taktik keprajuritan dengan penuh disiplin.

Kemudian sang nenek beserta cucu terjun kembali ke medan perang menggabung dengan pasukan Pangeran Diponegoro. Karena usianya sudah lanjut (73 tahun) Nyi Ageng Serang diangkat Pangeran Diponegoro menjadi penasihat bersama paman Pangeran Diponegoro sendiri, yaitu Pangeran Mangkubumi. Namun demikian Nyi Ageng Serang selalu ada di tengah-tengah para prajurit di garis depan. Berkat petunjuk dan nasihat Nyi Ageng Serang, pasukan Belanda selalu dapat dikalahkan dan diporak-porandakan.

Disamping itu Pangeran Papak juga telah membuktikan kemahirannya sebagai komandan pasukan. Sebagai hasil didikan dan gemblengan sang nenek, pasukan yang dipimpinnya selalu memperoleh kemenagan-kemenangan dalam berbagai peperangan.

Perlu diketahui bahwa Nyi Ageng Serang bersama Pangeran Papak pada waktu itu sudah menggunakan panji-panji yang berwarna merah putih yang disebut Panji Gula Kelapa(Gula yang dibuat dari buah kelapa berwarna merah, sedangkan daging kelapanya sendiri berwarna putih).

Panji merah putih dililitkan pada senjata tombak warisan almarhum Panembahan Natapraja. Disamping panji merah putih dililitkan pula Slendang Pusaka yang merupakan lambang patriotisme Nyi Ageng Serang. Pasukan Papak terkenal juga sebagai Pasukan Natapraja, dan mempunyai daerah pertempuran meliputi wilayah Serang Purwodadi, Gundih, Demak, Semarang, Kudus, Salatiga, Boyolali, Klaten, dan Magelang.

Walaupun terpaksa harus dipikul memakau tandu, dalam pertempuran-pertempuran besar Nyi Ageng Serang selalu ada di tengah-tengah prajurit untuk menggugah dan tetap menyalakan semangat, dan dimana perlu langsung memberkan komando.

Nyi Ageng Serang juga terkenal dengan siasat Daun Lumbu-nya (rumpun dioscorea, berwarna hijau, lebar, agak tebal tetapi lemas). Kegunaan daun unu ganda yaitu, untuk menutup/pelindung diri sehingga tidak nampak dari jarak yang agak jauh oleh musuh, sebagai payung kalau hujan, dan sebagai pelindung terhadap panas terik matahari.

Siasat Daun Lumbu ini sering mengacaubalaukan musuh dengan serangan-serangannya yang tak terduga dan mendadak, karena tentera musuh tidak dapat mengetahui sebelumnya bahwa di sekitarnya ada pasukan Nyi Ageng Serang, karena tidak nampak sebab terlindung oleh daun-daun lumbu itu.

Berhubung dengan itu maka pasukan Nyi Ageng Serang atau Pasukan Natapraja ini terkenal dengan sebutan Pasukan Hantu, dan sangat ditakuti oleh tentara Belanda.

Sebagaimana kita telah mengetahui, Perang Diponegoro ini berlangsung berlarut-larut untuk waktu yang cukup lama, sedangkan Nyi Ageng Serang makin hari makin mendekati titik akhir dari hayatnya. Menjelang usia 76 tahun, karena beban tugs bercampur derita lahir-batin yang berat dan bertubu-tubi datangnya, kesehatan Nyi Ageng Serang makin mundur, walaupun semangat juangnya masih tetap tinggi. Akhirnya beliau jatuh sakit dan kemudian wafat ditahun 1828. Beliau dimakamkan di Dusun Beku, Pagerarjo, Kalibawang, Kulonprogo. Makam ini terletak di atas bukit kurang lebih 6 km dari jalan Dekso-Muntilan. Jarak dari Yogyakarta ± 32 km, dari kota Wates ± 30 km.

Makam ini dipugar pada 1983 dengan bangunan berbentuk joglo. Pada saat dipugar, makam suami, ibu, cucu dan yang telah dimakamkan di desa Nglorong, Kabupaten Sragen di pindahkan di tempat ini.

Nyi Ageng Serang telah tiada, namun nama, jasa, dan kepahlawanannya tetap kita kenang dan catat dengan tinta emas. Sikap dan perbuatannya patut menjadi suri tauladan bagi generasi penerus. Nyi Ageng Serang telah menunjukan dengan nyata diri pribadinya sebagai pola anutan dan ikutan bagi kita semua.


Sumber : ( S. Soetomo dan Wongso, Honggo. Perjuangan wanita sejagat menuntut hak politik. 1990. Jakarta: Balai Pustaka. )

my friend to knpi

my friend to knpi

sosial dan politik

Loading...
Ada kesalahan di dalam gadget ini
Loading...
Ada kesalahan di dalam gadget ini